BERKENALAN DENGAN DANDIM 0106

Berkenalan Letkol Inf Sarwoyadi


Selepas siang, (14/4), Kantin lengang. Setelah jam sibuk selesai, disaat makan siang. Bersih-bersih meja menjadi kebiasaanku. Ada plastic bekas makanan ringan dan abu rokok bertebaran di meja.
Aku melihat puntung rokok jenis mild yang mendominasi asbak yang terbuat dari pohon pelindung kopi, pete jemen (lamtoro). Kebanyakan tamu yang datang adalah perokok berat.
Sebuah buku yang diberikan Pak Yusra Habib Abdul Gani berjudul, Self – Government, Studi Perbandingan Tentang Desain Administrasi Negara, diterbitkan Paramedia Press, Jakarta 2009, belum sempat kubaca.
Dua orang tamu datang. Satu orang merupakan pelanggan tetap “Gayo Espresso Kupi” Pak Syukri, asisten II. Pak Syukri kerap memesan Late dan Black Coffee. Seorang lagi berpakaian TNI. Perwira. Wajah baru yang belum kukenal.
Ternyata teman Pak Syukri adalah Komandan Daerah Militer (Dandim) 0106 Aceh Tengah. Berperawakan sedang, badannya tegap. Tidak merokok. Barisan giginya putih, rapi.
Rambutnya tersisir rapi, meski sudah lewat dua senti yang dalam bahasa tentara, sudah agak gondrong. Belum ada uban dikepalanya. Pangkatnya Letnan Kolonel (Letkol) Infantri Sarwoyadi. Asal Bogor. Orang Sunda.
Setelah bersalaman dengan kedua tamuku. Pak Dandim melepas topi (pet)nya. Pak Syukri memperkenalkan aku dengan Pak Dandim dan mengatakan alih profesiku dari wartawan menjadi pelayan kopi yang disebut Barista.
Tangan Pak Dandim yang kekar menggegam tanganku dengan kuat. Salam tentara. Image sebagai tentara yang dipenuhi ketatnya protokoler dan hirarki gugur setelah bercerita gono-gini.
Apalagi Pak Dandim datang tidak dengan mobil dinas TNInya. Tapi menumpang mobil Dinas Pak Syukri, tanpa pengawalan. Wah asyik juga Pak Dandim ini, ujarku dalam hati.
Meski tentara, Pak Sarwoyadi, enak diajak berdiskusi. Meski masih berpakaian dinas, atribut TNInya hilang bersama cerita yang terus mengalir.
“Gayo adalah sekeping tanah surga yang terhempas kedunia”, sebutnya mengutip sebuah ungkapan tentang daerah subur di tengah provinsi Aceh yang berada pada Dataran Tinggi. Wilayah pegunungan yang eksotika.
Meski baru, Dandim mulai membuka kerjasama dengan lintas sektoral Pemkab di Aceh Tengah guna mengekplore bumi Gayo yang kaya tapi masih belum diolah maksimal. Warga lalai mengolah tanah subur karena berbagai hal. Sehingga cenderung lebih santai dan lambat yang dalam bahasa pasar disebut “malas”.
“Saya akan melakukan rapat dengan beberapa dinas guna melihat berbagai kemungkinan program yang bisa kita bantu”, ungkap Dandim. Dandim berkeinginan agar masyarakat Aceh Tengah lebih produktip mengolah lahan yang dimiliki dengan memelihara ternak, seperti, kambing, bebek, dan lain-lain serta mengolah tanah sawah untuk ditanami sayuran. Sehingga kehidupan masyarakat agraris Takengon lebih meningkat.
Letkol Inf. Sarwoyadi tampaknya tidak hanya hendak berteori saja, gebrakannya dimulai dengan bersilaturrahmi dengan elemen sipil di Takengon. Salah satunya, dengan sebuah LSM untuk menggelar sunatan massal dengan menghadirkan anak-anak dari kaum dhuafa dari 14 Kecamatan di Aceh Tengah.
Selain itu, Dandim juga bersama Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh Tengah , juga sudah menggagas beberapa program untuk generasi muda dan upaya penghijauan.
Karena membuka diri dengan berbagai elemen dan stake holders di Takengon, dan tidak menggunakan pendekatan “meliter”, yang seringkali agak kaku , Sarwoyadi tampaknya mulai disukai dan dibicarakan banyak kalangan.
Bukan itu saja, dari pembicaraan terbuka , terungkap , Dandim juga melakukan pembinaan terhadap internal TNI dibawah komandonya. “Saya sudah perintahkan Danramil di Aceh Tengah untuk membeli laptop dan perangkat modem internet seperti Flash untuk berkomunikasi”, tegas Dandim.
Sarwoyadi meminta, bukan berharap agar anak buahnya setingkat Danramil tidak gagap tehnologi (Gatek) dan memiliki kemampuan menggunakan tehnologi dan mengikuti perkembangan dunia terkini.
“Saat ini saya sedang membibitkan 400 ribu sengon yang nantinya akan diberikan kepada Danramil, Babinsa dan masyarakat untuk penghijauan”, papar Dandim.
Sarwoyadi berharap, TNI dibawah komandonya , selain menjaga bingkai NKRI , dimasa damai seperti saat ini dapat berkarya bersama masyarakat secara nyata dan terlibat langsung sehingga hasil yang diperoleh sekecil apapun akan berdampak langsung bagi TNI dan masyarakat.
Saya sangat setuju dengan pendapat Dandim. Saat gempa dan tsunami melanda Aceh, TNI dan Polri yang bertugas di Aceh kala itu sangat berperan sekali membantu korban tsunami langsung, sebelum bantuan dan relawan dari Indonesia dan asing tiba.
Jika kemampuan TNI dilapangan saat ini tidak saja dipakai untuk kegiatan rutin tentara, tapi dikaryakan untuk menggerakkan dan memotivasi perekonomian masyarakat diseputar tentara, tentu saja diluar jam dinas. . Bukan tidak mungkin, sebuah perubahan sekecil apapun akan mengalami proses.
Proses menjadi kata yang penting. Karena perubahan apapun dimulai dari sebuah proses. Jika sebuah proses perubahan tidak dimulai, hanya berteori, maka perubahan adalah sebuah mimpi.
Bisa jadi perubahan baru terjadi disatu generasi kedepan. Tapi yang prosesnya sudah dimulai dari sekarang. Setelah proses dimulai, kalimat terpenting untuk perubahan adalah konsistensi.
Satu kalimat yang begitu puitis diucapkan Pak Dandim, “Selama berdinas di sebuah tempat di Timur Timor dulu, tak ada sebuah pelurupun keluar dari laras senapanku”, katanya. Padahal kita semua tahu bagaimana gejolak disana kala itu dan terbukti Tim tim luput dari NKRI.Padahal di Desa Tempat Sarwoyadi berdinas, Kadesnya sekalipun adalah Fretilin.
Menurutku, Pak Sarwoyadi sudah memulai sebuah proses. Dengan membuka diri sebagai TNI bekerjasama dengan siapapun. Termasuk kalangan pers. Dengan begitu, TNI tidak lagi sangar dan kaku.
Tapi sudah lebih jauh dan masuk menjadi bagian rakyat. Kedepan, rakyat Aceh Tengah tentu berharap TNI merubah pola pendekatan terhadap rakyat Aceh yang pernah mengalami konplik dan merasakan hingga kini “trauma konplik” terhadap militer, polisi dan separatis yang telah secara langsung atau tidak melibatkan rakyat.
Pun begitu, kedepan, masyarakat juga berani melaporkan dan mengkritik oknum TNI yang terlibat berbagai bentuk kejahatan dan membekingi penyakit social ditengah masyarakat.
Dengan begitu, TNI tidak lagi ditakuti karena seragamnya, tapi disukai karena profesionalitasnya dan karya nyatanya disaat tidak ada perang. Membantu percepatan peningkatan perekonomian masyarakat secara langsung. Akankah..? waktu, sikap dan cara pemimpin TNI lah yang akan menentukannya. Sebagai rakyat, kita semua tentu akan menunggu proses itu……(Aman Shafa)

Komentar

Entri Populer