Aku Seorang Pelayan
Aku membersihkan plastic bekas kemasan kerupuk nangka, kentang dan penganan ringan lainnya. Sisa abu rokok dan bungkusnya dari berbagai merek kukumpulkan dalam tas plastic untuk dibuang ditempat sampah. Abu rokok yang berterbangan diatas meja kubersihkan menggunakan lap yang sedikit basah. Agar meja kembali bersih. Kini aku menjadi pelayan kantin. Tidak lebih dari itu. Seorang pelayan. Pekerjaan ini kupilih setelah bekerja di berbagai media cetak, situs berita online, tabloid, ternyata belum mampu mengasapi dapur keluargaku secara kontinyu. Life goes on Aku harus merubah haluan. Harus ada penghasilan tetap dari usaha yang kulakoni demi masa depan keluarga. Empat anakku sudah mulai besar dan membutuhkan biaya untuk berbagai keperluan mereka. Aku harus punya penghasilan untuk semua itu. Sementara gaji dari menjadi wartawan, contributor atau apapun namanya, ternyata belum cukup di Aceh. Kecuali aku mau menjadi wartawan pemeras dengan mencari kasus pejabat korup, selingkuh atau narkoba. Kemudian menggertak agar member uang kalau tidak ingin berita dinaikkan di media. Seperti banyak wartawan lakukan di Takengon. Meski sebagian ada yang di prodeokan karena menipu atau memeras. Namun banyak lagi yang berkeliaran mencari mangsa. Kebanyakan wartawan jenis pemeras yang salah menggunakan Pers dengan tambahan hurup “a’ diantara hurup “r” dan “s” menjadi peras, adalah wartawan mingguan yang tidak digaji korannya tapi dipersilahkan mencari gaji sendiri di lapangan. Baik dari narasumber atau pejabat serta warga yang bermasalah dengan hukum. Gaya wartawan pemeras yang kerap disebut CNN (Cuma Nanya-nanya), tanpa berita ini jauh lebih sangar daripada wartawan yang lebih menjaga etika dan diajarkan Kode etik jurnalisme. Mereka tumbuh subur dan berkembang karena tidak ada keberanian dari yang diperas wartawan ini melapor polisi atau ke Koran bersangkutan. Pengalaman bekerja di media cetak di grup Jawa Pos yang terbit di Aceh hampir lima tahun, gajiku tak sampai Rp.1.5 juta/bulan. Pilihanku jatuh menjadi pelayan kantin yang khusus menyajikan menu utama kopi dari mesin espresso. Pelayan seperti ini disebut Barista. Pilihan menjadi Barista sudah melewati berbagai pertimbangan yang lama dan panjang dengan memperhitungkan berbagai aspek. Paling tidak, itulah pikiran terbaikku saat itu. Dasar pemikiran itu, seperti ketersediaan kopi selai (roasting) yang menjadi bahan utama espresso. Serta kemungkinan ekspansi usaha menyediakan berbagai turunan produk dari arabika. Seperti kopi bubuk, kopi roasting dan lain-lain. Menurut data resmi, Kopi (Coffea) adalah komoditi perdagangan dunia.Di Aceh Tengah luas kebun kopi 48.000,-hektar, dengan jumlah petani kopi 33.000 kepala keluarga (KK). Bener Meriah luas kopi petani adalah 39.490 hektar dengan jumlah petani kopi 29.000 kepala keluarga dan kopi di Kabupaten Gayo Lues mencapai 7.800 hektar dengan petani kopi 3.968 kepala keluarga. Beberapa negara baru yang membeli kopi gayo adalah Portugal, Inggris, Swedia , Australia dan Itali. Beberapa Negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Selandia Baru, Belgia, Jerman dan Norwegia, sudah tercatat terlebih dahulu mengimpor kopi gayo. Menurut data Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UKM Aceh, Amerika adalah Negara yang paling banyak membeli kopi Gayo. Tercatat nilai eksport komoditi kopi Gayo selama kurun waktu Januari hingga September 2010 lalu mencapai 12 juta dolar Amerika. Sementara senilai 7 duta dolar Amerika (USD) lainnya, dibeli 11 negara lainnya. Sekitar 90 persen kopi Gayo dieksport, sisanya diolah untuk berbagai kepentingan, seperti dijadikan kopi bubuk dan kopi roasting (selai) dan kebutuhan lainnya. Luas kopi arabika di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah yang mencapai 87 ribu hektar lebih , produksinya rata-rata 80 ribu ton/tahun. Namun beberapa pihak menilai bahwa produksi dan luas kopi Aceh Tengah, jauh ditas angka resmi versi pemerintah daerah ini. Seperti dikatakan Iwan, penduduk Paya Tumpi Takengon. Menurut Iwan, jika dilakukan data jumlah petani kopi dan luas areal perkebunan kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah atau update data terbaru saat ini , dia yakin jumlah luas kopi petani jauh diatas angka 87 ribu hektar. “Masa sih Cuma segitu (87 ribu hektar) luas kebun kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Coba didata ulang. Saya yakin luasnya lebih dari itu. Bisa jadi diatas 100 ribu hektar. Masalahnya, data tersebut dibuat tahun berapa dan apakah pendata turun langsung ke lapangan”, sebut Iwan bertanya. Menurut Iwan, tidak akurasinya data luas areal kopi dan jumlah petani sangat merugikan daerah dalam banyak hal. Di tempat lain, Zainul Purba, seorang pns yang mengurus perdagangan di Pemda Aceh Tengah menyatakan bahwa banyak eksportir Aceh Tengah yang tidak mengurus ijin eksport di Takengon. “Akibatnya kita tidak tahu pasti jumlah eksport kopi Aceh Tengah setiap tahunnya. Karena hanya sebagian kecil eksportir yang mengurus ijin ekspor di daerah”, kata Zainul suatu waktu. Kebanyakan eksportir lebih memilih mengurus ijin di Pelabuhan Belawan Sumatera Utara. Apa yang dikatakan Iwan dan Zainul merupakan sebuah fakta yang patut ditindaklanjuti karena menyangkut kepentingan daerah. Dalam sebuah tulisan Tabloid TingkaP, edisi Februari 2008. Menurut bupati Aceh Tengah Ir.Nasaruddin MM, luas kebun kopi di Aceh Tengah 46.000 hektar. 90 persen merupakan kebun rakyat dan menjadi penyumbang terbesar PAD, setiap tahun Rp.3 milyar. Pemda memungut retribusi Rp.250/kilogram. Pun begitu, menurut bupati di Tabloid itu, masih 16.966 kepala keluarga hidup digaris kemiskinan. Yakni 36,6 persen dari total jumlah penduduk kala itu, sebanyak 185.000 jiwa. Kopi di Aceh Tengah, sudah jelas pertama sekali dibawa Belanda. Belanda yang masuk ke Takengon sekitar tahun 1904 mendata dan memetakan lokasi-lokasi yang cocok ditanami berbagai komoditi, seperti kopi, teh dan damar (pinus mercusi). Menurut Wiknyo, penduduk Paya Tumpi , mantan penyuluh pertanian, yang kini sedang meneliti kopi arabika gayo. Belanda pertama sekali membuat perkebunan kopi di Aceh Tengah adalah di Paya Tumpi Kecamatan Kebayakan. “Belanda membuat perkebunan kopi pertama sekali di Paya Tumpi tahun 1924”, ungkap Wiknyo. Setelah Paya Tumpi, Belanda kemudian mengembangkan perkebunan kopi ke Berhendal (Bergendal) Teritit Kecamatan Bukit Bener Meriah hingga Redines Kelupak Mata . Setelah itu Belanda mengembangkan perkebunan kopi didaerah lingkaran Bur Salah Nama. Bur salah nama adalah sebuah gunung berapi aktip yang menurut Wiknyo pernah meletus 200 tahun lalu. “Di Tahun 1994, sekelompok peneliti gunung api dari Universitas Gajah Mada, meneliti Bur Salah nama dan menyatakan gunung tersebut masih aktip. Bur salah Nama terletak dalam satu jajaran dengan Pantan terong dan Bur Pepanyi. Bur Salah Nama bias disusur I dari Wihni Bakong Kecamatan Silih Nara Aceh Tengah. UGM meneliti Bur Salah Nama berdasarkan peta gunung api peninggalan Belanda tahun 1937”, rinci Wiknyo, Senin (4/11/2011). Peta Belanda yang diplot menjadi areal perkebunan kopi yang melingkari Bur Salah Nama antara lain adalah, Paya Tumpi, Bukit Sama, Redines Bergendal, Wih Nongkal, Bies, Pucuk Deku, Arul Gele dan sejumlah daerah lainnya diseputaran Bur Salah Nama. Konon, Bur Salah Nama oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan (maaf) “Bur Susu”. Karena bentuknya yang menyerupai susu. Namun karena dinilai nama tersebut dalam bahasa Gayo dinilai Kemali, Sumang Pecerakean (kurang sopan/pantang kata) . Maka namanya diganti Bur Salah Nama. Salah Nama dipakai Belanda dalam peta yang mereka buat. “Jika ingin mendapatkan rasa dan aroma kopi arabika yang baik, idealnya diambil dari perkebunan kopi dilingkaran Bur Salah Nama”, ucap Wiknyo. Menurut Wiknyo, produksi tertinggi dari satu batang kopi di Takengon, baru sekitar 2.5 kilogram. “Tergantung jenis kopi dan umurnya”, paparnya. Wiknyo menyarankan guna memacu produktipitas kopi arabika, paling cepat dan ideal dengan klonalisasi. Karena dengan klonalisasi, indukan bisa dipilih demi kepastian produksi. Itulah yang kini dikembangkan Wiknyo. Wiknyo kini akan mencoba mengembangkan kopi dengan jarak tanam 1.5 x 1.5 meter. Dengan jumlah kopi perhektar mencapai 5500 batang. “Diprediksi produksi pertahunnya nanti bisa mencapai Rp.220 juta. Di tahun kelima mulai baris kopi dijarangkan hingga jarak ideal”, katanya. Namun katanya lagi, perlu dikaji kemampuan tanah atau menguji kesuburan tanah dengan jarak tanam yang dekat seperti itu. Kembali ke kisah awal tadi. Untuk menjadi seorang Barista , dan tentu saja sekalian membeli mesin espresso, banyak dorongan diberikan keluarga dan juga M.Syukri. Menurut Syukri, prospek menjual produk kopi dalam bentuk minuman sangat terbuka lebar apalagi letak Kantin Batas Kota di Paya Tumpi milik abang iparku sangat strategis.”Jual asset yang ada dan raih kesempatan itu.”, kata Syukri meyakinkanku. Seraya menunjukkan brosur berbagai mesin espresso yang dilihatnya disebuah pameran di Jakarta. Masalahnya, aku tidak memiliki simpanan uang untuk membeli mesin espresso yang kuidamkan itu. Aku kemudian berpikir menjual mobil tua taft badak tahun 1982 yang kubeli setahun lalu dari hasil beternak sapi bali yang sudah kulakoni sejak enam tahun terakhir. Ternyata tidak mudah menjual mobil jenis ini. Hampir setengah tahun berlalu , barulah mobil ini laku senilai Rp. 26.800.000,-Berbekal uang ini, aku berangkat ke Jakarta. Sebelum berangkat ke Jakarta, aku sudah terlebih dahulu mempelajari dan melihat harga sebuah mesin espresso yang mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta. Tapi aku tetap optimis. Tekadku menjadi Barista sudah bulat. Aku memilih mengikuti kursus terlebih dahulu. Namun aku sempat terhenyak karena kursus selama tiga hari biayanya Rp. 3 juta. Sebuah nilai yang wah bagiku. Syukurlah, abangku yang tinggal di Jakarta membayarkan biaya kursus tersebut. Hehehe, kerut di dahiku karena dipaksa berpikir mencari dana tambahan alias utang, pudar. Lokasi kursus di Senayan Trade Center (STC). Pengajarnya , Franky Angkawijaya dengan asisten Imee Sutanto. Franky, seorang yang cakap dibidang produk mesin espresso dan accesorisnya. Franky juga membuka kursus barista. Esperto Barista Course. Seangkatan kursus menjadi Barista denganku ternyata bukan hanya dari Indonesia. Ada cewek bule dari German, Viola Gimex dan 2 orang WNI keturunan China yang bermukim di Australia. Seorang Ambon, Joost dan seorang cewek lainnya dari Malang. Tiga hari kursus sangat berarti bagiku. Karena akan menjadi modalku nantinya. Tentu saja kucoba serius menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Imee Hartanto, the trainer. Imee sebelumnya lama bekerja menjadi Barista di Starbuck sebelum bergabung dengan Franky. Apalagi bagiku, semua hal tentang mesin espresso dan semua asesorisnya adalah barang baru dalam duniaku dan kosa kataku yang dulu berkutat pada 5 W + 1 H. Sebuah rumus wartawan bekerja. Meski aku sudah coba mengekplornya di internet sebelumnya, menggunakan mesin pinter , “Awan Google”. Menurut keterangan Imee, sejarah kopi dunia dipercaya berasal dari Ethiopia. Sebuah Negara miskin di gurun Afrika. Satu legenda menyebutkan, Kaldi, seorang penggembala kambing melihat kambing peliharaannya “menari”, atau terlihat lebih aktip bergerak setelah memakan buah kopi. Di abad ke 17, kopi sudah masuk ke Italy. Kemudian di tahun 1645, pertama sekali warung kopi dibuka di Italy. Tahun 1689 Francis pertama sekali membuka Café dan dinamai “Café Procopone”. Tahun 1696 , pertama sekali tanaman kopi ditemukan di Jawa,Indonesia. 1723, tanaman kopi diperkenalkan di Amerika. Kopi kemudian berkembang ke seluruh dunia dan menjadi konsumsi dunia, terutama jenis arabika karena dinilai sesuai selera masyarakat Erofa dan Amerika karena tidak asam dibandingkan robusta. Ada dua jenis sangria kopi dunia yang terkenal. Sangrai lebih dikenal dengan sebutan roasting. Cara Amerika (Light) ,warna kopi lebih coklat dengan temperature 260-280 derjat celcius selama 5-7 menit. Kemudian cara Itali (Dark) atau lebih gosong , temperature, 220-224 derjat celcius, dengan lama penyangraian 12-20 menit. Kopi memiliki empat musuh utama, yakni heat, light, moisture dan air (udara) . Keempat elemen ini dapat merubah cita rasa kopi. Semua bagian kursus kuikuti dengan sungguh. Pengenalan mesin espresso, grinder , pembuatan dua jenis menu utama espresso, cappuccino dan late. Khusus belajar late art, Franky mematok biaya Rp.1 juta, dengan kursus satu hari saja. Tapi aku tak mampu lagi mengikuti kursus late art, uang cekak. Meski sangat ingin. “Kopi sangat sensitive dan mengambil bau dari sekitarnya dengan cara diserap. Makanya Barista tak boleh pakai parfum”, kata Imee sambil tertawa. Tak ada barista yang memakai minyak wangi. Ada prinsip dari membuat satu gelas kopi espresso. Yakni waktu air mengalir dari mesin espresso, apapun jenisnya, melalui forta filter ke gelas antara 25-28 detik. “Pada kisaran 25-28 detik ini adalah angka ideal didapat flavour espresso secara optimum”, jelas Imee yang bermata sipit dan bertubuh jangkung. Nah jika proses keluarnya air kopi dari mesin melewati 25-28 detik, maka ada yang salah dari kopi bubuk yang dihancurkan grinder. Harus dikalibrasi. 1 kalibrasi sama dengan 3-5 detik aliran. Kalibrasi sangat perlu untuk mengembalikan rasa kopi terbaik. Dengan cara merubah ukuran grinder agar didapat bubuk ideal yang menghasilkan rasa kopi (flavour) yang optimum. Untuk grinder, atau mesin penghalus biji kopi yang sudah diroasting (sangrai) sangat menentukan. Grinder buatan Erofa harganya dari Rp.5 juta keatas. Namun grinder buatan China jauh lebih murah. Dimulai dengan harga antara Rp.1.5 juta . Saya memilih grinder buatan China dari Hendra, seorang pengusaha mesin espresso dibilangan Cilandak, Jakarta Selatan. Dari Hendra pulalah saya membeli sebuah mesin espresso merek BFC Junior Plus. Model 1 GV LV keluaran tahun 2007. BFC Junior manual yang satu grup menyedot dengan watt listrik 1300 w. Kapasitas air 1.3 liter. Harganya diatas Rp.14 juta. Berbekal sedikit ilmu dari sekolah barista Franky Angkawijaya dan mesin kecil 1 grup espresso BFC Junior, akupun pulang ke Gayo. Ternyata tidaklah mudah membuka sebuah kantin atau café espresso. Berbagai peralatan dibutuhkan. Seperti meja, kursi, gelas berbagai jenis . Sesuai kebutuhan jenis minuman, tatakan hingga susu segar dan penyedap minuman lainnya. Semuanya harus dibeli dengan uang. Susu segar menjadi kendala utama di Takengon. Beberapa produk susu segar yang dijual di super market Takengon tidak menghasilkan foam atau busa susu yang baik. Tapi penuh gelembung udara meski cara menyetim susu sudah dilakukan dengan berbagai cara. Tidak ada susu segar yang sudah di pasteurilisasi. Belajar dari keadaan ini, dan menurut informasi dari berbagai pihak, dipilihlah satu produk susu segar jenis ultra milk. Namun tidak ada dijual di takengon sehingga harus dipesan dari Medan Sumatera utara. Mesin espresso BFC Junior idealnya bukan untuk café. Tapi untuk kebutuhan rumah tangga biasa. Apalagi kapasitas airnya hanya 1.3 liter. Namun karena keterbatasan, mesin espresso BFC Junior “terpaksa” digunakan melebihi kapasitas kemampuannya bekerja. Bekerja membuat puluhan gelas espresso dan turunan menunya sepanjang hari secara kontinyu. Apa boleh buat. Sementara mesin espresso automatic merek Saeco Royal yang kubeli di Jakarta, belum bisa digunakan karena terbatasnya listrik. Saeco Royal menggunakan listrik 2300 watt. Tamu yang datang silih berganti. Kebanyakan adalah pelanggan kantin batas kota yang telah dibuka selama 10 tahun lebih dengan menu utama masakan khas Gayo. Seperti Depik dedah, pengat, goreng, jaher masam jing, korek sengeral, goreng dan lain-lain. Bumbu masakan khas Gayo biasanya selalu dibubuhi sejenis tumbuhan yang rasanya kebas dalam bahasa gayo disebut empan. Demikian halnya dengan minuman. Minuman favorit kantin ini antara lain terong agor (angur) yang di juice. Minuman kopi yang dikeluarkan dari mesin espresso, sebenarnya bukan barang baru di Takengon. Sejak beberapa tahun terakhir, Bergendal kopi sudah terlebih dahulu memperkenalkan espresso. Bahkan Bergendal kopi memiliki dua mesin espresso satu dan dua grup merek Expobar yang harganya puluhan juta. Café Bergendal Kopi dibuat sangat artistic. Dengan rancangan apik dengan tatanan café modern didominasi warna coklat dan merah. Paduan lampu yang sedikit temaram dengan berbagai jenis kursi menambak eksotika café Bergendal yang dimiliki Yusrin, pensiunan pns yang all out bergelut diusaha kopi. Mulai kopi roasting, café, hingga menjual bubuk kopi bermerek Bergendal yang sudah dipatenkannya di Departemen Hukum dan HAM. Yusrin memiliki mesin roasting yang harganya ratusan juta. Yusrin mengelola usaha kopi arabika yang terkenal memiliki aroma dan rasa dari hulu ke hilir dengan penghasilan sebulan mencapai puluhan juta. Bahkan, berbagai café di Aceh yang menggunakan mesin espresso mengambil kopi roasting dari Yusrin dengan sistim deposit. Artinya, uang jutaan rupiah dititipkan pada Yusrin dan biji kopi yang sudah disangrai dikirim sesuai kebutuhan café yang sudah mengikat perjanjian dengan Yusrin. Akupun mengambil kopi roasting dari Bergendal milik Yusrin yang kini harga perkilogramnya mencapai Rp.225 ribu. Beberapa teman-teman yang coba membuat kopi roasting belum mampu menyaingi hasil roasting Bergendal kopi yang memiliki aroma dan rasa yang khas dari biji kopi yang diambil Yusrin dari bekas perkebunan Belanda Bergendal. Cita rasa yang baik dan membuat orang kecanduan meminum Bergendal kopi karena kualitas. Yusrin benar-benar sangat teliti memilih kopi sejak panen hingga proses akhir. Yusrin mengatakan hanya memilih kopi yang benar-benar masak saja. Kopi gelondong (masih memiliki kulit buah atau Chery) milik Yusrin setelah panen, direndamnya terlebih dahulu dengan air. Hanya kopi yang tenggelam saja yang dipakai. Karena kopi yang terapung biasanya adalah sampah kopi atau kopi cacat yang disebut terase. Yusrrin berkali-kali merendam kopi merah ini, sebelum diolah di tahap selanjutnya yaitu digiling atau pemisahan kulit buah dan biji. Setelah difermentasi , barulah kopi ini dijemur. Bergendal menjemur kopi diatas tempat yang jauh dari tanah menghindari kontaminasi rasa dan sampah yang masuk ke kopi. Barulah kopi dibawa ke mesin penggilingan kopi guna memisahkan kulit arid an biji kopi untuk selanjutnya dijemur kembali hingga biji kopi benar-benar kering dengan kadar air tersisa 14 persen. Setelah kering, Yusrin yang memakai tenaga kerja dari keluarganya sendiri kembali menyeleksi biji-biji kopi hingga diperoleh 100 persen kopi murni tanpa sampah. Di proses akhir, Yusrin melakukan roasting dengan alat modern yang menggunakan gas dan listrik. “Saya sangat menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen kopi saya. Jika ada pelanggan saya yang menyampaikan keluhan tentang kopi Bergendal. Hal itu bisa membuat saya tidak tidur dan secepatnya mencari solusi”, kata Yusrin. Selain Yusrin, beberapa kalangan generasi muda Gayo di Takengon sudah sejak beberapa tahun lalu mengembangkan usaha bubuk kopi. Contoh sukses pengusaha bubuk kopi gayo adalah Rasidin. Rasidin sudah memiliki omset penjualan bubuk kopi robusta dan arabika puluhan juta hingga ratusan juta perbulannya. Rasidin memakai merek kopi bubuknya dengan “Lakun Kopi”. Awalnya, Rasidin hanya menekuni kopi bubuk jenis robusta karena lebih disukai konsumen. Robusta memiliki kandungan kafein 40 persen lebih tinggi dibandingkan arabika. Kebanyakan warga Gayo adalah penikmat kopi berat sehingga rasa robusta dinilai lebih cocok. Menurut Rasidin, daerah –daerah yang memiliki rasa terbaik kopi robusta di Takengon adalah Kecamatan Bintang, Linge, Silih Nara dan sebagian Bebesen. “Kini kebun kopi robusta di Aceh Tengah tinggal sedikit. Tak sampai 5 persen dari total perkebunan kopi rakyat”, kata Rasidin. Kebanyakan petani kopi robusta di pedalaman Takengon, terang Rasidin, menjemur kopi robusta dengan kulit buahnya hingga kering. “Kopi ini kemudian disimpan di rumah petani. Saat mereka butuh uang barulah kopi digiling ke mesin kopi untuk dijual. Jadi semacam simpanan”, ungkap Rasidin. Kini Rasidin sudah mengembangkan juga kopi arabika dalam kemasan bubuknya bersama kopi luwak yang dalam bahasa gayo disebut kopi musang. Rasidin gencar mempromosikan produksi kopi bubuknya dengan berbagai media yang ada. “Kini pasaran kopi Lakun sudah tersebar di super market di Aceh. Saya sedang jajaki pasar di Medan Jakarta”, imbuh Rasidin yang selalu optimis. Selain Rasidin dan Yusrin, juga ada Ikrar, keluarga pengusaha ternama di era awal berdirinya Aceh Tengah. Haji Aman Kuba di Reje Bukit Kecamatan Bebesen. Aman Kuba pada eranya juga dikenal sebagai pengusaha yang dermawan. Ikrar selain membuat kopi bubuk juga sudah memulai usaha kopi roasting. Ikrar dalam mengemas produk kopi bubuknya sudah menggunakan kemasan alumunium foil demi menjaga cita rasa kopi buatannya. Ikrar memberi nama produk kopinya dengan brand Aman Kuba. Di Kabupaten Bener Meriah , pecahan Kabupaten Aceh Tengah , seorang pengusaha bubuk kopi yang kini sedang coba melakukan ekspansi penjualan ke Aceh adalah Munawar SH. Munawar SH yang pns memakai merek Redlong Kopi untuk produknya. Di hari libur, Munawar menjajakan sendiri Redlong kopi ke pasaran di Aceh. Bener Meriah terletak pada posisi 40.33,50-40.54.50 Lintang Utara 960,4075-970,1750 Bujur Timur dengan ketinggian rata-rata 1000 -2500 m diatas permukaan laut. Bener Meriah dengan Ibukotanya Simpang Tiga Redelong berdiri pada 17 Januari 2004. Kebanyakan tamu yang datang ke Kantin Batas Kota untuk minum kopi adalah teman-teman yang bekerja diberbagai media cetak, lsm, komunitas, mahasiswa dan kalangan pejabat dan sejumlah kenalan lainnya. Black coffee adalah yang paling banyak diminta karena dinilai lebih mendekati rasa kopi yang biasa mereka minum. Beberapa diantaranya memilih cappuccino, late dan sedikit espresso. Selain ngopi, komunitas dari berbagai komponen ini juga bertukar informasi, trik fotografi atau mengetik berita. Atau cerita ngalor ngidul. Beberapa tamu istimewa yang kerap datang antara lain adalah peneliti Balar Medan, seperti Ketut Wiradnyana dan Lucas Partanda Koestoro. Yusra Habib Abdul Gani, Fikar W Eda, LK Ara, peminum berat kopi, seperti M.Syukri dan sejumlah figure public lainnya. Selain menyediakan kopi, aku juga membawa buku-buku untuk dibaca mereka yang datang ke Kantin Batas Kota agar tidak suntuk. Ketut Wiradnyana menyarankan agar dibagian sudut kantin Batas Kota dibuat rak buku sehingga pungsi kantin tidak saja hanya untuk makan atau minum. Tapi juga menjadi tempat membaca sehingga lebih menarik dan menambah ilmu. Aku melayani semua tamuku yang datang. Mengantarkan pesanan minuman yang mereka minta. Meski sebagian ada yang agak sungkan karena kulayani karena factor kedekatan atau usia. Tapi Aku meminta tamuku tidak sungkan karena aku sudah memilih peran sebagai pelayan. “Bagaimana rasanya menjadi barista?”, kata M.Syukri, suatu kali. Aku mengatakan bahwa aku menikmati pekerjaan ini. Meski terkadang suntuk juga disaat sepi. Namun buku-buku yang kubawa ternyata mampu menepis sepi dan boring. Apalagi di sore hari , saat tak ada tamu, aku bisa bermain bola dibelakang kantin yang merupakan halaman rumah almarhum Abdul Wahab atau sering juga disebut Reje Gunung, mantan bupati pertama Aceh Tengah. Rumah mantan bupati pertama ini terbuat dari bahan kayu dengan arsitektur yang sangat sederhana seperti kebanyakan rumah warga biasa Takengon. Sesekali terdengar suara biola yang dipetik Suwardi, salah seorang anak Abdul Wahab yang mengajari cucunya bermain biola. Kopi di wilayah gayo merupakan phenomena yang menarik. Betapa tidak, di Takengon, kopi diusahakan oleh rakyat langsung. Bukan pemerintah, seperti di jaman Belanda dahulu. “Di Aceh Tengah seberapapun luas kopi, diusahakan sendiri oleh rakyat. Di tempat lain , lebih dua hektar saja sudah diusahakan oleh perusahaan. Ini keuntungan bagi petani”, kata Nurdin Ali, warga gayo yang lama bermukim di Amerika dan kini bekerja untuk IOM. IOM, kata Nurdin Ali kini sedang melaksanakan sebuah program khusus bagi petani kopi dengan durasi waktu kerja 14 bulan. “Untuk program ini, limit waktunya terlalu singkat. Untuk itu kita berharap ada penambahan waktu hingga 4-5 tahun kedepan agar program ini berhasil”, kata Nurdin. Nurdin menggambarkan, program khusus ini dimulai dari pembibitan hingga penjualan. Juga dikembangkan resi gudang sehingga posisi tawar petani sebagai produsen kopi utama gayo lebih baik. “Apakah bukan hal yang mustahil jika kopi gayo nantinya dikuasai asing?”, kataku bertanya. Menurut Nurdin semuanya tergantung kepada kita. Apakah kita mau bermain atau menjadi penonton. Hal yang sama diungkapkan Wiknyo. Kebanyakan petani di Aceh Tengah belum mengelola kebun kopi milik mereka secara baik dan benar sehingga produksinya baru sekitar 600-700 kg/tahun/hektar. Keadaan ini diperparah rendahnya pengetahuan petani tentang bertani kopi serta tidak aktipnya penyuluh pertanian. “Jangankan pengetahuan memupuk kopi. Baris kopi serta jarak tanam saja petani belum melakukannya”, kata Wiknyo Wiknyo percaya jika dilakukan sistim klonalisasi atau sambung pucuk. Produksi petani bisa dinaikkan tanpa harus membuka lahan baru tapi merupakan intensifikasi. Selain klonalisasi perlu rehabilitasi kopi yang sudah berumur puluhan tahun tapi masih dibiarkan petani tidak diganti. Di zaman Belanda, Takengon dijadikan Onder Afdeeling Nordkus Atjeh. Sigli atau kabupaten Pidie dijadikan Ibukotanya. Belanda membuat perusahaan pengolahan kopi di Takengon kemudian menjadi pusat pemasaran hasil bumi dan sayuran. Bahkan Belanda mengembangkan perkebunan teh di Kecamatan Bandar Kabupaten Bener Meriah , selain kopi. “Teh Bener Meriah ketika itu adalah teh kualitas terbaik dunia. Ratu Belanda meminum teh dari Bener Meriah. Ada 700 hektar lebih kebun teh dijaman Belanda”, papar Wiknyo. Perkebunan the Belanda di Bener Meriah tersebut kemudian beralih pungsi menjadi kebun kopi rakyat. Pemkab Bener Meriah hingga kini tidak lagi menanam teh dan menjadikannya komoditi unggulan, seperti Belanda. Seorang fotografer pernah berkunjung ke Takengon dan Wiknyo memberi minuman teh yang dibuat Wiknyo dengan teh berasal dari Bener Meriah. Menurut sang fotograper, teh yang diminumnya sama dengan teh terbaik dari Assam India dan pernah diminumnya di Hongkong. Aceh Tengah berdiri Tanggal 14 April 1948 berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1948. Kemudian dikukuhkan kembali sebagai sebuah Kabupaten Tanggal 14 November 1956 melalui undang-undang Darurat Nomor 7 tahun 1956. Wilayah Kabupaten Aceh Tengah meliputi tiga kewedanaan, yakni Takengon, Gayo Lues dan Tanah Alas atau Aceh Tenggara. Tahun 1974 Aceh Tengah dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Tenggara dengan Undang-undang Nomor 4 tahun 1974. Dan Tanggal 7 Januari 2004 Bener Meriah dimekarkan dari Aceh Tengah. Meski kopi gayo asal Aceh Tengah dan Bener Meriah sudah mendunia. Karena aroma dan citarasa serta bentuk fisik yang besar, namun sejak beberapa tahun terakhir pengusaha Aceh resah dan tidak bisa lagi mengeksport kopi gayo keluar negeri dengan merek kopi gayo. Kopi gayo sudah dipatenkan pengusaha Belanda menjadi miliknya. Gayo punya kopi, Belanda punya merek. Namun Pemkab Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah mengusahakan paten kopi gayo kembali menjadi milik masyarakat gayo dengan IG (Identifikasi Geografis). Seperti halnya kopi Kintamani di Bali. Departemen Hukum dan HAM kemudian mengesahkan IG kopi Gayo sebagai milik rakyat Gayo karena kekhususannya dengan wilayahnya sendiri. Namun sejauh ini , menurut beberapa petani di Takengon IG belum menaikkan harga kopi ditingkat petani. Namun IG kopi gayo paling tidak sudah melindungi paten kopi gayo karena memang masyarakat gayolah yang berhak memiliki identitas dan merek kopi gayo sesui geografisnya. Sebagai pelayan tentu saja tugas utamanya adalah melayani. Semua tamu adalah raja yang harus diperlakukan dengan terhormat dan mulia. Saat tak ada tamu ditunggu dengan harap-harap cemas. Setelah tiba dilayani sebaiknya, kemudian pergi dan kembali menunggu, entah siapa lagi yang akan tiba. Membunuh sepi , selain membaca, aku juga mulai menulis lagi. Menulis kali ini tentu saja lebih santai karena tidak lagi dikejar listing berita yang setiap jam 12 harus disms ke redaksi saat masih bekerja di Harian Rakyat Aceh (Grup Jawa Pos). Atau dikejar deadline. Kontrak dengan LKBN Antara Biro Aceh juga sudah berakhir sejak akhir tahun lalu. Praktis aku menjadi orang bebas. Sangat bebas dan merdeka. Apalagi jabatanku di Forum Penyelamatan Danau Lauttawar (FPDLT) sebagai Sekretaris Jendral (Sekjen) sudah juga kulepaskan (5/4) karena kesibukan menjadi Barista. Dengan cara mengundurkan diri. Dari awal dipercaya menjadi Sekjen, aku merasa berat menerima amanah ini. Karena aku bukan manager yang baik. Pun begitu jabatan tersebut kuterima dari kawan-kawan yang merupakan gabungan LSM, ormas, wartawan dan anggota DPRK serta komponen lainnya. Dengan janji kalau saya tak sanggup mengemban amanah tersebut akan mengundurkan diri. Terbukti, saya bukan seorang pemimpin yang baik dan harus mengundurkan diri. Sesuai janji. Aku ingin poisisi Sekjen tersebut diberikan kepada kawan-kawan yang militant menjaga dan melestarikan danau kebangaan rakyat gayo, Danau Lut Tawar kepada anak cucu kelak. Dihadapkan pada persoalan hidup antara mengasapi dapur dan menjadi relawan FPDLT, tentu aku harus memilih bagaimana menyiapkan ekonomi untuk keluarga. Selama ini aku kurang memperhatikan sector ini. Pergi pagi pulang sore dengan bekerja dibawah tekanan. Sebagaimana kerja wartawan. Tapi usia terus bertambah. Jenuh dan bosan mulai terasa apalagi gaji tidak bisa ditabung. Habis dan serba kurang. Beruntung aku memiliki istri yang rajin. Membuat kue dan menitipnya di warung. Tidak banyak uang yang dihasilkan memang, tapi ternyata sangat membantu. Istriku mewarisi bakat berjualan dari Ibu mertua, almarhum Aminah Armaya. Seorang guru sekolah dasar yang menghidupi dan menyekolahkan delapan anaknya, termasuk istriku hingga perguruan tinggi negeri di Banda Aceh. Meski mengajar, Ibu mertuaku harus berjualan berbagai penganan yang dibawanya ke sekolah agar delapan anaknya bisa tetap sekolah. Karena gajinya sebagai guru, tentu saja tidak cukup. Kerap kali, ibu mertua tidur sambil meramu adonan kue karena kelelahan yang bekerja hingga tengah malam. Sementara pagi besoknya, beliau harus tetap mengajar sambil membawa kue-kuenya. Tapi sepanjang ingatanku, ibu mertua tetap tersenyum. Tak pernah aku melihatnya marah sekalipun. Berbagai kalangan tamu yang minum di kantin batas kota, membawa berbagai cerita, persoalan dan juga tawa. Kerap aku menguping pembicaraan mereka. Ternyata , semua orang punya masalah sendiri. Menurut petani, menjadi pegawai negeri itu enak, karena menerima gaji setiap bulan. Sementara menurut pegawai, menjadi petani itu enak, bebas dan merdeka tanpa aturan yang mengikat. Tapi ternyata semua punya persoalan mereka sendiri. Tinggal bagaimana mereka semua menyikapi dan menyelesaikan persoalan yang ada. Akh…dunia, gumanku pada diriku sendiri. Hidup tentu saja harus dijalani. Tergantung jalan mana yang kita pilih. Semua keberhasilan didapat orang-orang sukses dilakukan dengan cara kerja keras dan sungguh-sungguh. Tidak ada yang mudah. Seperti pernah diungkapkan Tung Desem, seorang motivator, “keraslah pada dirimu maka dunia akan lunak. Tapi kalau kamu lunak pada dirimu, maka dunia akan keras kepadamu”,….Dan aku terus mencoba dan mencoba. Seperti yang juga pernah diungkapkan Imam Ali Bin Abi Thalib, “tidak ada yang paling ditakuti selain mengalahkan rasa takut”. Aku tentu saja berharap besok akan lebih baik dari hari ini. Karena aku percaya dan sangat tergantung pada si pemberi hidup, Allah yang Maha Perkasa. Dan aku selalu berusaha mengingatNya selalu meski dalam tawa. Apatah lagi sedang berduka…(Aman Shafa Kantin Batas Kota , Paya Tumpi, Awal April 2011)
Type text or a website address or translate a document.
Cancel
Indonesian to English translation
I am a Servant

I clean the plastic packaging used cracker jack fruit, potatoes and other light snacks. Cigarette ashes and the packaging of various brands I collected in plastic bags for waste disposal place. Cigarette ash floating above the table cleaned using a slightly damp cloth. In order to clean the table again.

Now I serve cafeteria. Nothing more than that. A waiter. I chose this job after working in various print media, online news sites, tabloid, was not able to fumigate the kitchen of my family continuously. Life goes on

I have to change direction. There should be a steady income from the business for the future kulakoni family. Four of my children have started a large and costly for their various purposes. I should have paid for it.

While the salary of a journalist, contributor, or whatever his name, was not enough in Aceh. Unless I want to be a journalist blackmailer by looking for cases of corrupt officials, cheating or drugs. Then bully for members of money if you do not want the news raised in the media. Like many journalists do in Takengon. Although there are at prodeokan partly because trick or blackmail. But many more who prowl.

Most journalists use the wrong type of blackmailer Press with additional letters 'a' between the letters "r" and "s" to be squeezed, is a journalist who is paid weekly newspaper, but are welcome to find their own salaries in the field. Both the resource persons or officials and citizens in trouble with the law.

Style reporter extortionists who are often called, CNN (Only Nanya his pants), no news is far more frightening than the more journalists are taught to maintain ethics and code of ethics of journalism. They thrive and grow because there is no courage of this journalist who blackmailed the police report or the newspaper concerned.

Experience working in print media in Java Post group in Aceh, which was published nearly five years, my salary barely Rp.1.5 million / month.

My choice fell into a special canteen waiter presents the main menu of coffee from espresso machines. The waiter is called a Barista.

Options become Barista has passed a variety of considerations of time and length by taking into account various aspects. At least, that's my best thoughts at the time.

The rationale was, like the availability of coffee jelly (roasting), which became the main ingredient of espresso. And possible further expansion to provide a variety of derivative products from arabica. As ground coffee, coffee roasting and others.

According to official data, Coffee (Coffea) is a commodity trading dunia.Di Central Aceh coffee plantation area 48 000,-ha, with the number of coffee farmers 33 000 heads of households (HH). Bener Meriah area is 39,490 hectares of coffee farmers by the number of coffee farmers and coffee 29 000 heads of households in the district of Gayo Lues reached 7800 hectares with 3968 coffee farmers head of the family.

Several new countries that buy Gayo coffee is Portugal, Britain, Sweden, Australia and Italy. Some countries like the United States, Canada, Mexico, New Zealand, Belgium, Germany and Norway, has been recorded beforehand Gayo coffee imports.

According to data from the Office of Trade Industry, Cooperatives and SMEs in Aceh, the U.S. is the country's most lots purchased Gayo coffee.

Carrying value of commodity exports Gayo coffee during the period January to September 2010 and then reached 12 million U.S. dollars.

While ambassadors $ 7 U.S. dollars (USD) others, purchased the other 11 countries. About 90 percent of Gayo coffee exported, the rest is processed for various purposes, such as used coffee powder and coffee roasting (jam) and other needs.

Area of ​​arabica coffee in the Regency of Central Aceh and Bener Meriah who reached 87 thousand hectares, the average production of 80 thousand tons / year.

However, some parties felt that the area of ​​coffee production and Central Aceh, official figures far ditas version of this local government.

As said Iwan, residents Paya Tumpi Takengon. According to Iwan, if carried out data on the number of coffee farmers and coffee plantation area in Central Aceh and Bener Meriah or update the latest data at this time, he believes the number of large coffee farmers are well above 87 thousand hectares.

"The hell's just that much (87 thousand hectares) of coffee plantation area in Central Aceh and Bener Meriah. Try re-recorded. I believe that breadth is more than that. It could be over 100 thousand hectares. The problem is, the data is made in how and whether the enumerators dropped directly into the field ", says Iwan asked.

According to Blue, no coffee acreage data accuracy and the number of farmers is very detrimental to the area in many ways. Elsewhere, Zainul Purba, a civil servants who take care of trade in Central Aceh Local Government states that many exporters in Central Aceh, no export permit in Takengon.

"As a result we do not know for sure the number of Central Aceh coffee exports annually. Because only a small proportion of exporters who export licenses in the area, "said Zainul a time.

Most exporters prefer to take care of permits in the Port of Belawan in North Sumatra.

What is said Iwan and Zainul is a fact that should be followed up because it involves the interests of the region. In a casement Tabloid paper, edition of February 2008. According to the Central Aceh district head Ir.Nasaruddin MM, vast coffee plantations in Central Aceh's 46 000 hectares.

90 percent are in their fields, and become the largest contributor to revenue, every year Rp.3 billion. Local Government Rp.250/kilogram collect retribution. Even so, according to the tabloid's regent, 16,966 heads of families still live underlined poverty. That is 36.6 percent of the total population at that time, as many as 185,000 inhabitants.

Coffee in Central Aceh, it is clear first of all brought the Netherlands. Dutch entry to Takengon around in 1904 to record and map suitable sites planted with a variety of commodities, such as coffee, tea and resin (pine mercusi).

According Wiknyo, population Tumpi Paya, a former agricultural extension, which is now being examined Gayo Arabica coffee. The first Dutch once a coffee plantation in Central Aceh District is in Paya Tumpi plumpness.

"The Dutch made the first coffee plantation in Paya Tumpi once in 1924," said Wiknyo. After Paya Tumpi, the Netherlands and then to develop coffee plantations to Berhendal (Bergendal) Teritit Bener Meriah District until Redines Bukit Mata Kelupak.

After that the Netherlands developed a coffee plantation area circle Bur One Name. Bur one name is an active volcano which had erupted Wiknyo 200 years ago.

"In the year 1994, a group of volcano researcher from the University of Gajah Mada University, researching Bur One name and declared the mountain is still active.

Komentar

Entri Populer